| |
Air Putih Blog
Apa adanya...terserah seperti yang kamu sangka.
Friday, June 03, 2005
Dewa, Cinta Dan Sufi
Pergulatan panjang anak-anak muda dibawah komando Ahmad Dhani, telah menjadi barisan dengan sayap-sayapnya yang mengepak. Barisan Laskar Cinta, bagai "Ababil" yang menyentak kesadaran kaum muda di negeri ini, yang begitu lama dikukung oleh kekuatan, kekuasaan, diktatorisme yang memberangus cinta dan kebebasan.Dewa, lalu menjadi ikon yang begitu kokoh, setelah tahun demi tahun dalam pencarian "Sarang Cinta" dan "Perdamaian". Lalu sarang-sarang lain yang dihuni oleh mereka yang terganggu kedatangan barisan Laskar Cinta ini, tiba-tiba menggeliat, bah... bedebah. Lambang agung Dewa harus dikoyak, karena lambang itu tak layak untuk dijadikan symbol Laskar Cinta, apalagi Laskar ini tidak mencerminkan keislaman, yang dianggap milik mereka, sesuatu yang diagungkan mereka.Sungguh, sebagaimana sebuah revolusi yang menggugat kemapanan, mengoyak demagog dan berhala, memberangus egoisme atas nama Tuhan dan agama, tiba-tiba, adalah Dewa yang menggelorakan sebuah konser revolusioner itu. Pertama-tama begitu terganggu hadirnya Dewa, ketika sebuah konser diselenggarakan sebuah TV swasta, Minggu (10/4) dengan tidak sengaja menggelar karpet berlambang kaligrafi, yang konon, mengandung nama Allah. Tiba-tiba seorang Ustadz Wahfiyudin melayangkan protes keras, karena Dewa dianggap menginjak-injak kaligrafi "Allah", lalu beruntun menjadi gelombang protes, dengan teriakan panjang, FPI (Front Pembela Islam) yang dikomandoi Habib Riziq menggugatnya. Berantai pula gugatannya, ketika simbol Dewa yang dikira Kaligrafi bertulis Allah itu jadi lebel kasetnya. Rupanya,tudingan bahwa Kaligrafi itu, pun masih kontroversi. Jangan-jangan guratan-guratan daun di pinggir jalan kalau di amat-amati bisa dikait-kaitkan dengan lafadz Allah, bentuk kaca mobil, juga bisa dikaitkan dengan model kaligrafi, atau apa saja.Susul menyusul teriakan di pinggir jalan bermunculan, memanfaatkan momentum ini, yang mulai mempersoalkan teologi Dewa sampai tudingan sebagai antek asing di negeri ini. Entah, apa tujuannya, dan siapa di belakang mereka. Tentu kisah kontroversi ini melibatkan lembaga peradilan, ramai-ramai melaporkan Dewa.Komandan Dewa, Dhani Ahmad pun sudah meminta maaf jika memang dianggap salah oleh mereka yang menganggapnya berdosa. "Saya, Dhani ahmad, Once, Andra, Yuke, Tyo, atas nama Dewa meminta maaf atas kecerobohan yang tidak kami sengaja, yang mungkin menyakitkan sebagian umat Islam." Sufinews

post by Anang on 1:15 AM |

Wednesday, April 27, 2005
Oase
Mentari di kota ini begitu terik membakar segenap rasa bagai berkecamuk dalam desing, penat kadang kesunyian yang mencekam, jadikan peluh bahkan airmata mengalir menyusuri ruang kota, meresap kedalam bumi lalu hilang tanpa bekas. Sekilas yang tampak hanya keburaman bahkan makin kelam sedemikian pekat hingga makin tak mampu bedakan kamu, kau dan dia bahkan aku. Semuanya tenggelam didalamnya bagai fir'aun yang karam bersama harta benda beserta centeng-centeng terkasihnya.

Bukakan matamu... lihatlah dengan ikhlas betapa tak'jub dalam rengkuhan batin pesona ini nyata adanya ....Alhamdulillah... pemberianMu berderajat-derajat nikmat.

post by Anang on 2:29 AM |

archives
links
Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com